Sabtu, 22 Februari 2020

SATU PEKAN MENUJU LAUNCHING KOMAR LEARNING CENTER “Sudah seberapa besar perjuangan itu?”

SATU PEKAN MENUJU LAUNCHING
KOMAR LEARNING CENTER
“Sudah seberapa besar perjuangan itu?”

Anak muda adalah anak harapan bangsa. Begitu katanya. Sebutan “Millenial” sangat gencar terdengar akhir-akhir ini. Semenjak para influencer menggaung-gaungkan bahwa “Indonesia butuh anak muda”. Indonesia butuh anak muda yang rebahan secukupnya, berjuang selelahnya (Najwa Shihab). 

Siapa bilang anak muda zaman now tidak peduli dengan perubahan negaranya? Tidak sedikit anak muda yang berani maju untuk tampil menyuarakan haknya, tidak sedikit anak muda yang duduk nongkrong di warung kopi, namun pembahasannya melejit sangat menguras pikiran untuk perubahan masa depan, dan tidak sedikit pula anak muda berkecimpung dalam dunia nyata dari segala aspek, baik pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, bahkan sudah duduk di bangku pemerintahan. Bersyukurlah, anak muda itu adalah kamu.

Mengingat kembali pendidikan yang tiada henti untuk dioptimalisasi, masalah yang terus dihadapi tentang perkembangan pendidikan di Indonesia membuat tergeraknya jiwa untuk ikut terlibat dan melakukan dobrakan baru. Hal ini dapat kita rasakan saat berkunjung di salah satu  TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Kota Medan, yaitu TPA Terjun Marelan. Salah satu TPA yang memiliki rumah pintar untuk anak-anak bahkan orang dewasa yang putus sekolah. Dengan sistem pengambilan paket C, rumah pintar menjadi solusi dalam mengeluarkan ijazah untuk keperluan kerja maupun kelulusan dalam pendidikan formal. 

Namun, pendidikan tidak hanya sebatas “ijazah”. Masyarakat sekitar umumnya bekerja sebagai pemulung, begitu juga anak-anak disana lebih memilih mendapatkan uang untuk bisa sekolah. Padahal, pendidikan juga mengajarkan agar kita memiliki skill yang mampu mendorong perkembangan pendidikan itu sendiri.

Beranjak dari masalah tersebut, Komunitas Arrahman (Komar) yang terdiri dari pemuda-pemudi Kota Medan dan sekitarnya tergerak untuk dapat membantu kemajuan pendidikan dengan pelatihan skill untuk anak dan wawasan luas demi cita-cita yang diimpikan. Melalui Komar Learning Center (KLC) , program akan fokus dalam kegiatan belajar-mengajar yang kreatif, inovatif dan inspiratif dalam jangka waktu 6 bulan sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yang ke-4 yaitu Pendidikan Berkualitas.

Survei Lokasi KLC di Rumah Pintar TPA Terjun Marelan

Seminggu sebelum Launching KLC, para relawan mengikuti Training for Trainee pada Sabtu, 22 Februari 2020 di VIP Room Mie Ayam H.Mahmud. Dalam kesempatan ini, relawan dibekali dengan konsep dasar volunteer mencakup leadership yang dibawakan oleh Ketua Komar, M. Al Haris Shihab dan Volunteerism and Development of Motivation for Children yang dibawakan oleh Kak Rizky Nasution, salah satu tokoh muda inspiratif Anak Medan. Wow seru banget pastinya.

ToT KLC di VIP Room Mie Ayam Jamur Mahmud
Pembekalan dasar leadership mengajarkan kita agar senantiasa memiliki Akhlak dan Taqwa terlebih dahulu. Karena ketika seseorang diberi amanah, maka pertanggungjawaban selalu menjadi tagihannya. Tak luput pula, seorang leader harus cerdas dalam Emosional dan Intelektual. Tentu ini menjadi tolak ukur keberhasilan pemimpin dong yaa.

Dalam ToT kali ini, kak Rizky juga mengingatkan dalam pesannya, “ Sering kali Relawan diartikan dalam kacamata lahiriah saja yaitu seseorang yang rela berbagi waktu, tenaga, pikiran bahkan harta benda. Relawan seringkali LUPA dalam rela berbagi bathiniyahnya." 
Membahas tentang bathiniyah, terdapat beberapa sikap dan rasa yang juga harus dimiliki seorang relawan, berikut ulasannya.

Pertama, rasa KEPEMILIKAN. Tentu rasa ini menjadi bagian terpenting untuk seorang relawan. Hindari segala macam yang berbau “kepentingan” karena ini dapat merusak dunia kerelawananmu.

Kedua, ikatan SILATURRAHIM. Pada tahap selanjutnya, hubungan akan semakin erat ketika dapat menjaga persaudaraan, apalagi sudah mendedikasikan diri sejak awal bergabung karena memiliki visi dan misi yang sama. Jangan sampai konflik pribadi menjadi konflik sebuah komunitas, tentu akan mengganggu perkembangan komunitas itu sendiri.

Ketiga, rasa EMPATI. Tidak perlu dihiraukan lagi, seseorang tergabung menjadi relawan sebab karena empatinya yang tinggi. Namun rasa ini mesti dijaga seperti rasa kita (ehhh) agar tidak timbul yang namanya PERHITUNGAN.

Keempat, mungkin sudah terjawab semua ya bathiniyahnya. Namun ada yang lebih urgent lagi sebagai pelengkapnya nih. IDE. Seringkali ide seorang teman menjadi SAMPAH baginya, dan merasa idenya lebih baik. Padahal, tidak ada IDE yang SALAH. Karakter ini juga ditanamkan kak Rizky bahwa “Tidak ada ide yang salah. Yang salah itu tidak memberi ide”. Suatu kelompok akan maju dan berkembang ketika ide-ide itu muncul dari anggotanya meskipun ide itu sama sekali belum pernah didengar. Jangan takut untuk mencobanya, karena Penyakit anak muda sekarang, malu dan minder menuangkan ide karena khawatir hanya menjadi “SAMPAH”. Ia lupa bahwa idenya itu dapat menjadi “MUTIARA” ketika terealisasi dengan baik.
Kepekaan terhadap apapun yang terjadi, haruslah dimiliki oleh anak muda. Karena dimulai dari kepekaanlah, hatinya tergerak untuk melakukan perubahan.

Mohon doanya agar usaha demi usaha dapat berjalan dengan baik dan lancer. Manusia hanya bisa berencana namun Allah yang menentukan. Tawakkal lah setelah ikhtiarmu telah sempurna.

KOMAR #CerdasdanMencerdaskan
Salam Penulis,
Nuurfadhiilah

Minggu, 17 November 2019

THE SINGAPORE OF MEDAN, SIAPA DIBALIK BANGUNAN MEGAH INI?



THE SINGAPORE OF MEDAN, SIAPA DIBALIK BANGUNAN MEGAH INI?


Ketertarikan mahasiswa dalam ber-swafoto menjadi fenomena bagi kita. Kawasan ini dahulunya bisa dibilang begitu sepi dan menakutkan, hutan di sisi kanan dan kiri menjadi pemandangan segar ketika jogging di pagi hari, namun menjadi seram ketika malam tiba, sebab jalanan yang begitu gelap dengan penerangan lampu jalan yang minim. Siapa sangka, saat ini suasana itu berubah?

Bagi mahasiswa, konsep revolusi itu terasa. Modernisasi lingkungan telah sampai di Laut Dendang (nama daerah yang tidak lagi asing bagi mahasiswa UIN dan sekitarnya). Rumah yang dijual lebih murah dibandingkan di kota, ada di Laut Dendang. Tanah yang tidak mahal serta sembako yang cukup murah ada di sana. Berbeda dengan kota, yang belum tentu terjangkau untuk kelas menengah ke bawah.

Namun di tahun 2019 ini, wajah baru hadir di tengah-tengah masyarakat. Jalanan yang semakin ramai dilewati, membuat pengendara bermotor tidak takut lagi melewatinya, bahkan kagum, karena terdapat The Fountain of Wealth nya Medan. Di malam hari air mancur ini menjadi daya tarik tersendiri. Air mancur pertama di Medan dengan konsep icon Singapura yang dibuat sedemikian rupa. Lagi-lagi kita bertanya, siapa di balik semua ini?

Dikutip dari website resmi, CitraLand Gama City adalah pengembangan raksasa properti Indonesia yang dibangun oleh Ciputra Group bekerja sama dengan GamaLand di atas lahan premium seluas 211,57 hektare. Bangunan mewah ini akan dijadikan kota mandiri yang mengintegrasikan kawasan hunian eksklusif dengan pusat bisnis modern, mall, apartment, sekolah, universitas, club house dan waterpark. Hunian ini dikembangkan dengan konsep Clean, Green, and Modern.

Foto : Dr. Ir. Ciputra

Seorang pengusaha besar telah mengembangkan bisnisnya di kota Metropolitan ini. Pemilik Ciputra Group kelahiran Sulawesi Tengah keturunan Tionghoa ini memiliki beberapa properti yang dikembangkan di tanah Jawa dan Sumatera bahkan Internasional. Bersama Ganda-Martua Sitorus melalui GamaLand, kedua properti ini bekerja sama menginvestasikan dalam pengembangan The Singapure of Medan.

Pengembangan properti ini akan terus berlanjut hingga tahap kedua dan menjadi icon yang akan sering dikunjungi masyarakat, terutama mahasiswa kampus yang ada di sekitar CitraLand tersebut. Tentunya kita tidak ingin hanya menjadi penikmat saja, bukan? Harapan bangsa ada di tangan pemuda-pemudi. Ya! Di tangan kita semua.

Semoga ulasan tadi dapat membangkitkan semangat kita untuk tidak hanya menjadi Penikmat saja, tetapi juga menjadi Produsen of Change.






Sabtu, 24 November 2018

Eksistensi Dakwah Pada Generasi Millenial

Eksistensi  Dakwah Pada Generasi Millenial
Oleh Nur Fadilah

Sebuah ungkapan yang tidak asing lagi di tengah-tengah masyarakat. Kata “millenial” menjadi booming pada saat ini, menunjukkan modernisasi di dunia menjadi hal yang konsumtif. Bagaimana tidak? Anak muda sangat kenal dengan dunia canggih dibandingkan orang tuanya. Mulai dari internet yang menjadi rujukan setiap masalah, youtube yang sudah menjadi tontonan biasa,  facebook yang masih hangat digunakan, dan Instagram yang menjadi salah satu sumber informasi terkait dunia entertainment. Sehingga gadget yang hampir setiap hari digunakan dalam kehidupan sehari-hari menjadi kebutuhan primer di kalangan remaja. 
Perubahan dunia sangat berpengaruh dengan gaya hidup seseorang. Dahulu, para salafus shalih sangat semangat dalam belajar agama kepada para Syaikh. Meskipun jarak antara rumah dengan Syaikh sangat jauh hingga berpuluh-puluh kilometer, para salafus shalih tetap semangat untuk mencari setetes ilmu itu. Pribadi yang kuat, sabar, dan semangat terlahir pada dirinya. Sehingga, tidak heran jika Rasulullah saw. mendoakan para sahabatnya menjadi ‘alim ‘ulama karena keshalihannya. Semua ilmu yang mereka dapatkan menjadi bekal dakwah untuk ummat dan generasi masa yang akan datang. Bahkan ketika Rasulullah saw. berdakwah, rasul selalu mengingatkan kepada para sahabat untuk menyampaikan sedikit banyaknya ilmu yang didapatkan dalam majelis. Rasulullah saw. bersabda, “Sampaikan apa yang (kamu terima) dari padaku walaupun satu ayat”. Hadis ini menjadi penyemangat anak muda bahwa menyampaikan sebuah kebaikan tidak hanya dibebankan kepada Da’i - Da’iyah , namun terlebih kepada semua orang.
Sementara itu, dakwah kadang dipahami  dalam arti sempit. Menurut Prof. Dr. H. Syukur Kholil, MA dalam bukunya yang berjudul “Komunikasi Islam dan Tantangan Modernitas”, dakwah adalah ceramah atau pidato di atas mimbar, Ceramah merupakan salah satu bentuk dari dakwah yang memiliki pengertian lebih luas. Secara etimologi, pengertian dakwah berasal dari kata “da’a. yad’u, da’watan” yang berarti memanggil, mengajak dan menyeru. Secara istilah, Syekh Ali Mahfuzh berpendapat bahwa dakwah adalah mendorong manusia agar memperbuat kebajikan dan menurut petunjuk, menyuruh mereka berbuat kebajikan dan melarang mereka dari berbuat munkar agar dapat kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dakwah hukumnya adalah wajib. Dalam menyampaikan dakwah, seseorang tidak hanya berdiri di atas mimbar. Terlebih lagi untuk generasi millenial, dakwah dapat disampaikan melalui sentuhan pada teknologi. Bahkan , melalui gadget pun bisa berdakwah. Jika dibandingkan dengan masa dahulu, dakwah masa kini lebih mudah disampaikan ke orang banyak bahkan dalam waktu yang singkat. Kecanggihan teknologi sudah seharusnya memberi peluang seseorang untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada keburukan. Bukan sebaliknya, malah menjadi propaganda atau provokasi kelompok tertentu yang mengakibatkan timbulnya masalah dan perpecahan di tengah-tengah masyarakat.
Segala aspek kehidupan berkembang searah dengan zamannya. Pendidikan, sosial, budaya, dan agama menjadi aspek konkret dalam sebuah pandangan.  Pendidikan yang baik ialah yang membutuhkan tenaga, waktu , pikiran yang matang sehingga hasilnya pun maksimal. Interaksi sosial lebih terkesan di dunia nyata dibandingkan duduk bersebelahan, namun seakan-akan berbeda dunia sebab sibuk dengan gadgetnya. Budaya adat yang menjadi kontrol sosial seakan telah ditinggalkan oleh masyarakat muda. Mereka lebih mengedepankan rasionalisme dan egoisme dalam menyikapi sesuatu. Ketika paham mereka tidak sampai maka emosi yang akan mencuat kepermukaan. Kemarahan, makian, aksi brutal menjadi tontonan lumrah saat ini. Nilai-nilai keislaman yang selama ini menjadi kebanggaan umat Islam perlahan diracuni oleh pemikiran-pemikiran yang bertujuan menyesatkan umat. Kata-kata modern dijadikan sebagai dalih,gadget sedangkan agama dipandang kolot alias ketinggalan zaman. Modern diakui ketika manusia mampu menyandinginya dengan orang barat. Modern diakui ketika manusia mampu bersikap seperti yang dilakukan orang banyak, namun lupa kepada apa yang disyariatkan. Modern diakui ketika si kaya melupakan si miskin beserta haknya. Sehingga pada masa ini khususnya anak muda, keberadaan dakwah sangat genting, terutama pada moral anak muda dan penting untuk direnungkan.
Keberadaan dakwah merupakan pondasi untuk tetap mengukuhkan diri dalam keislaman. Orang yang mampu dan mau berdakwah adalah umat terbaik. Sebagaimana Allah janjikan dalam surah Ali Imran ayat 110 yang artinya, “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah….”. Menurut tafsir Ibnu Katsir, dikatakan oleh Ibnu Abbas Mujahid, Atiyyah al-Aufi, Ikrimah, Ata dan Ar-Rabi’ ibn Anas. Kalian adalah umat yang terbaik yakni dilahirkan untuk manusia (Ali Imran :110). Dengan kata lain, mereka adalah sebaik-baik umat dan manusia yang paling bermanfaat buat umat manusia. Karena itu dalam firman selanjutnya disebutkan menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.
Dakwah adalah segala sesuatu yang membawa manfaat kepada dirinya dan orang lain. Sebagaimana ayat tersebut Allah jelaskan, amar makruf nahi mungkar adalah salah satu ciri umat terbaik. Karena di dalamnya terdapat kemanfaatan untuk umat. Bila kalimat “amar makruf nahi mungkar” dipahami dengan sebaik-baiknya, maka segala keburukan dan kejahatan akan terminimalisir bahkan tercegah. Dan akan semakin banyak orang yang beradab lagi santun, tidak egois, emosional yang tidak terkendali sehingga merugikan orang lain. Tentunya, amar makruf nahi mungkar menjadi eksistensi dakwah itu sendiri. 
Sederhananya, dalam kecanggihan teknologi, generasi millenial dapat menjadi generasi millenial islamiah di saat mereka bisa memanfaatkan peluang untuk menjadi “umat terbaik” itu. Contoh sederhana, update status sholawat lebih bermanfaat daripada status keluh kesah kehidupan, seolah-olah dia yang paling merana. Contoh dakwah sekecil apapun akan terasa bermanfaat dan menjadi ladang pahala untuknya bila memang berniat lillahi ta’ala. Sebagaimana penulis kutip pada pembahasan sebelumnya, bahwa dakwah tidak harus berceramah di atas mimbar. Melainkan dakwah bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, karena dakwah diperuntukkan untuk mereka yang beragama Islam dan dari semua kalangan. Inilah eksistensi dakwah pada generasi millenial yang saat ini sangat haus untuk diterapkan.

Selasa, 16 Oktober 2018

Langkah Muslimah di Tengah Kebangkitan Umat Islam

Langkah Muslimah di Tengah Kebangkitan Umat Islam
Oleh Nur Fadilah

Indikasi sekelompok orang dapat dikatakan bangkit apabila terjadi perubahan yang baik dari diri sendiri maupun orang yang disekelilingnya. Kebangkitan yang dimulai dari diri sendiri, akan menjadi semangat untuk kebangkitan orang lain. Tidak hanya itu, ia dapat menjadi sorotan dalam memperbaiki sistem yang rusak selama ini. Bangkit dari keterpurukan, merupakan imbas yang luar biasa karena telah mengambil pelajaran untuk kedepannya. Perubahan baik dari segi budaya, social, maupun agama menjadi pengaruh dalam berkehidupan dan berkebangsaan. Apalagi kegoncangan dalam berproses akan menambah girah untuk istiqomah di jalan Allah.
Berperan untuk kebaikan adalah jalan yang benar dan dianjurkan. Karena dalam kebaikan terdapat nilai positive secara horizontal dan pahala baginya secara vertical. Manusia baik laki-laki dan perempuan memiliki kewajiban dalam hal ini. Mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar menjadi slogan manusia untuk mendamaikan diri. Tidak mengenal ras, suku, atau warna kulit. Semua manusia menjadi pengemban amanah untuk menjadi da’I (pengajak). Tidak menutup jalan untuk para muslimah. Orang-orang disekitar telah menunggu hak mereka untuk dituntun ke jalan yang benar. Muslimah menjadi peran penting dalam misi ini dan langkahnya sangat diperlukan.
Aktualisasi seorang muslimah terasa hangat dalam pembicaraan. Kerudung dengan gamis yang indah, mudah ditemukan dalam kehidupan nyata. Dahulu, muslimah berhijab saja sulit ditemukan. Dengan semakin luasnya dakwah, hal itu menjadi langkah awal yang baik. Pakaian yang sopan terlihat global, meskipun masih banyak yang belum meneguhkan hati untuk istiqomah. Dalam menjaga diri, pakaian syar’I adalah pedomannya. Menutup seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan serta tidak ada lekukan tubuh, menjadi sempurna dalam penjagaan perhiasan dunia ini. Setidaknya, berusaha untuk berpakaian sopan dalam pandangan Islam.
Dalam perkembangannya, pakaian muslimah mengalami perubahan. Dahulu, muslimah lebih suka memakai songkok saat keluar rumah. Setelah itu mulai memakai hijab atau jilbab sesuai tuntunan. Dan sekarang hijab panjang mudah ditemukan. Online shop cukup membantu dalam hal ini. Fashion syar’I yang dikemas sesuai perkembangan zaman, menjadi langkah baik dalam kebangkitan umat. Beruntungnya, Rasulullah menyelamatkan wanita dari zaman jahiliyah. Jika tidak, muslimah tidak dapat merasakan manisnya iman saat ini.
Selain pakaian dalam menjaga kehormatan, Islam juga mengajarkan muslimah dalam pergaulannya. Berpenampilan baik dan bertutur kata yang baik pula. Tidak sembarangan dalam bercanda, menjadi penjagaan diri didepan khalayak ramai. Menjaga ibadah agar selalu dekat pada-Nya. Sifat-sifat yang tercermin, menjadikan muslimah sebagai panutan. Maka hiasilah dengan kelembutan, ketenangan, dan ketaatan. Aktif dalam pengembangan diri melalui organisasi, adalah pembelajaran yang baik untuk bersosialisasi dan menjadi bekal pembelajaran sebagai calon madrasatul ula. Ini menjadi amal muslimah dalam bergaul. Dengan tutur kata yang baik, muslimah dapat mengajak seseorang untuk melakukan kebaikan. Keistimewaan muslimah ialah menyampaikan dari hati ke hati dan sampai ke hati pula. Hati yang bersih akan menghasilkan dakwah yang terbaik. Penampilan yang baik membuat orang lain yakin bahwa ia sedang belajar pada muslimah yang baik pula. Kemasan menjadi penilaian seseorang. Dan isi menjadi buktinya. Begitu pula muslimah. Fashion syar’I yang baik akan menghasilkan keyakinan seseorang. Ditambah hati yang baik akan menambah keyakinan bahwa ia adalah panutan umat. Dengan demikian, orang lain akan belajar dari aura positif yang muslimah itu miliki dan menjadi nilai kebangkitan umat.
Muslimah juga menjadi sahabat bagi pasangan halalnya. Melayani suami dengan kasih saying serta keridhoan Allah menjadikan hubungan semakin harmonis. Muslimah menjadi alasan suami untuk tetap bertahan dalam kekeluargaan ini. Di Pengadilan Agama, sangat tinggi tingkat perceraian. Tentu hal ini sangat tidak diinginkan.  Muslimah yang baik menjadi pendorong semangat dan kelanggengan. Ia juga menjadi alasan pemicu untuk merendahkan tingkat perceraian. Banyak sekali, muslimah yang sudah berhasil dalam hal ini, membuka wadah sharing di kalangan ibu-ibu. Itu artinya dakwah dapat tersampaikan. Diri yang dimulai dengan sifat-sifat kesholehan, akan tererminkan dan menjadi pengajak muslimah lain untuk ikut taat. Jika diperhatikan, apabila seorang muslimah memiliki 10 teman sharing, maka hal-hal yang tidak diinginkan akan segara terminimalisir.  Maka dari itu, ini juga merupakan langkah penting dalam menciptakan muslimah yang sejati.
Tentunya, muslimah yang sudah banyak belajar dan menjaga diri, akan berpikir jauh ke depan. Iya, masa depan untuk generasi Islam yang taat. Di masa muda, ia sudah merancangkan pola kehidupan yang sangat menarik. Cita-citanya sangat sederhana. Menjadi ibu sholehah untuk anak-anak sholeh dan sholehah pula. Untuk menciptakan generasi seperti ini, tentu sangat banyak yang harus disiapkan. Dengan memiliki kebiasaan yang baik, maka kebaikan dan ke-sholehah-an itu terpancar menjadi aura baginya. Muslimah yang rajin beribadah akan menghadirkan generasi yang taat. Sebaliknya, muslimah yang sering mengabaikan pesan-pesan kebaikan, akan menghadir generasi yang suka membantah kebaikan pula. Dan generasi yang baik itu, akan menjadi panutan di masa depan untuk kebangkitan umat islam sepeninggalan ayah dan ibunya.
Kebaikan adalah pesan moral yang harus ditanam sejak dini. Menjadi sholehah adalah cita-cita dan tujuan dalam membangkitkan umat Islam. Terutama mensholehahkan diri sendiri terlebih dahulu, adalah langkah awal dalam kebangkitan umat. Karena kebaikan itu dimulai dari diri sendiri. Dan kebangkitan itu ada ketika diri sendiri dan orang lain yang disekitarnya merasakan perubahan kebaikan itu. Abbas Kararat mengungkapkan, “Ibu bagaikan sekolah, bila anda mempersiapkannya secara baik, berarti anda telah mempersiapkan generasi bangsa dengan integritas kepribadian yang baik”. Maka generasi baik itu lahir dari dirimu.

Selasa, 24 Juli 2018

Produsen of Change


Setiap orang memiliki masa depan, baik masa depan yang cerah ataupun yang buram. Semua bergantung kepada individu. Masa depan bukan menunggu takdir dengan mempercayai ramalan, tetapi dimulai dengan niat dan kerja keras serta tanggung jawab untuk mewujudkan suatu visi. Masa depan adalah perjalanan dan proses yang kompleks, tidak ada jalan yang mudah untuk masa depan terbaik.  Masa depan  yang lebih baik dapat terwujud ketika Anda sadar untuk mengikuti perubahan bahkan menjadi pelaku perubahan itu.Seseorang yang mau berpikir untuk masa depan adalah orang yang memiliki peluang besar untuk kesuksesan. Bagaimana tidak? Baginya, niat yang besar adalah langkah awal yang besar untuk mencapai sesuatu yang besar. Bayangkan saja apabila seseorang tidak memiliki niat yang besar, mustahil baginya untuk mencapai semua itu. Karena Nabi SAW. mengatakan semua amal bergantung kepada niat. Benjamin Franklin, seorang ilmuwan Amerika mengatakan “Dengan gagal merencanakan, Anda sedang merencanakan kegagalan.” Gagal disini bisa diartikan dengan tidak adanya niat dalam berencana. Maka bagaimana mungkin seseorang yang tidak berniat akan mendapatkan hasil yang luar biasa?

                        Djajendra, seorang motivator pernah mengatakan, “Menuju masa depan yang lebih baik seperti mendaki gunung. Kadang harus turn lembah sebelum naik ke puncak, kadang jalan sangat licin dan mudah terpeleset, kadang kelelahan dan harus memulihkan tenaga, banyak resiko yang harus dihadapi sebelum sampai di puncak tertinggi. Bila Anda yakin, percaya diri, sabar, tegar, belajar, kuat mental, kuat fisik, menyenangi proses, ikhlas dengan kenyataan yang tidak diinginkan, maka masa depan yang lebih baik dapat Anda capai.”

                        Di saat seseorang terlalu santai dalam hidupnya dan tidak memikirkan apapun selain kemalasan dan keterlenaan terhadap dunia fana, maka ia tidak ada apa-apanya dibandingkan kucing yang selalu mencari makan untuk anaknya. Apakah sama orang yang merangkak dengan berlari? Apakah sama orang yang bangun pagi dengan yang terlambat bangun? Tentu tidak.

                        Namun sebaliknya, ternyata masih banyak di sekeliling kita, orang yang bisa menghindari segala keterpurukan itu. Semua ia lakukan untuk kemajuan dirinya, keluarganya, bangsa dan negaranya. Mungkin Anda adalah salah satu di antaranya.

                        Lalu, bagaimanakah persiapan saat ini? Tentu jika ingin hasil yang memuaskan membutuhkan pengorbanan yang besar pula. Pengorbanan dari sisi tenaga, pikiran, waktu, semuanya harus dikorbankan. Tidak ada lagi kata “lalai”, melainkan mengubahnya dengan “rajin dan fokus”. Apabila saat ini orang Barat sedang mempersiapkan masa depan, maka seyogyanya kita berlari mengejarnya.  Kesempatan yang ada di depan mata jangan sampai disia-siakan. Bila kegagalan menghampiri, maka itu hanya keberhasilan yang tertunda.

                        Setelah Anda memiliki niat yang besar, maka langkah selanjutnya ialah tidak takut mencoba sesuatu hal yang terlihat baru. Bisa jadi itu adalah kesuksesanmu yang sebenarnya. Hanya orang yang memiliki kemauan yang bisa mendapatkannya. Apabila Anda bukan orang yang berani, tidak mengapa. Karena untuk menjadi sukses, keberanian bukanlah tolak ukur yang utama. Melainkan “kemauan” tinggi menjadi pertimbangan dalam mencapai kesuksesan.

                        Selanjutnya, seseorang yang ingin memiliki masa depan yang lebih baik, tidak akan menyia-nyiakan waktu luangnya hanya untuk menuruti hawa nafsu. Ia akan bangun lebih awal, kemudian berlari mengejar target-target yang telah disusun rapi. Kebiasaan buruk juga dapat menghalangi kesuksesannya. Mungkin di antara kita memiliki kebiasaan buruk masing-masing. Maka mulailah untuk mengubahnya dengan hal-hal baru dan bermanfaat.

                        Tidak hanya sampai disitu, Anda akan mendapatkan masa depan yang cerah apabila dilakukan dengan cara cerah pula, di antaranya menambah wawasan. Dengan begitu,  pemikiran yang mendunia akan membantunya hidup mendunia, bahkan negara ini juga akan mendunia. Dengan tangannya , negara berubah peradabannya.

                        Kemudian, selain wawasan yang luas, ada hal yang paling penting, yaitu pengalaman organisasi. Di lingkungan kita banyak sekali organisasi kemasyarakatan. Dengan pengalaman tersebut, ada banyak manfaat yang didapatkan, seperti public speaking, leadership, training motivation dan lain sebagainya. Semua itu sangat mendukung dalam melakukan perubahan. Relasi yang banyak membuat diri kita mudah berinteraksi, bahkan melancarkan rezeki. Dengan duduk di antara orang-orang hebat, membuat diri menjadi calon hebat pula. Karena lingkungan memberi pengaruh yang kuat untuk pengembangan diri seseorang. Anda bisa menanyakan diri Anda, bersama siapa Anda berteman. Itulah diri Anda sebenarnya.

                        Di dunia juga pasti ada persaingan. Diri yang tidak mudah goyah akan mampu bersaing. Persiapan ini sangat dibutuhkan untuk puncak dari kesuksesan dan bersaing secara profesional. Tidak dipungkiri juga, semua itu dapat diraih dengan bekerja keras. Sejarah mengingatkan bahwa, seorang pemuda dapat menaklukan Konstantinopel dalam usia 21 tahun. Ia adalah Muhammad Al Fatih. Atas kerja keras dan kecerdasannya, ia dapat menaklukan kota tersebut.

                        Keinginan tidak dapat menentukan masa depan karena keinginan belum Anda miliki. Tindakan yang akan memberikan jawaban dari semua itu. Apa yang ditanam hari ini akan menghasilkan sesuatu di masa depan. Maka jadilah bijak dan cerdas dalam bertindak dan bersikap terhadap segala sesuatu. Hilangkan keraguan dan berjuang secara totalitas untuk membentuk masa depan yang lebih baik.

                        Dengan demikian, apabila melakukan semua proses kesuksesan, maka yakinlah bahwa kesuksesan itu akan dekat. Hanya ada 2 pilihan, pemuda penuntut perubahan atau pemuda pelaku perubahan.  Semua pilihan ada di tangan Anda, bukan orang lain. Persiapkan diri Anda untuk masa depan yang lebih baik, karena Anda adalah Produsen of Change.

3rd Essay Competition in Event of Muslimah Fun Sharing USU 2017

Warisan Seliu

  WARISAN SELIU “Bukan tentang pantainya, namun tentang permata yang tersimpan menjadi warisan” – Nur Fadilah Alink berkumpul dengan ria di ...